Blog EntryPerempuan-perempuan yang Ber - Silat LidahFeb 22, '08 11:23 PM
for everyone
Tidak bisa disangkal lagi bahwa televisi merupakan media yang paling banyak diakses oleh masyarakat, jauh di atas media-media lain seperti koran, radio, apalagi buku. Radio yang jauh lebih tua dan pernah berjaya pada zamannya telah tergeser menjadi media tradisional yang bersifat personal dan spesifik. Televisi hadir di tengah-tengah masyarakat dengan menu utuh: Selain menyajikan suara (audio), ia juga menawarkan gambar bergerak (motion picture) yang tidak dipunyai radio dan media lainnya untuk memenuhi kepuasan pandangan.

Perempuan dalam televisi, terus terang, memberikan kepuasan ganda. Perempuan tampaknya terlanjur dianggap lebih menarik pandangan mata daripada laki-laki. Namun dalam anggapan itu, sebenarnya perempuan diposisikan sebagai yang lebih menarik dan lebih pantas untuk ‘dijajakan’ ketimbang dilihat sebagai substansi manusia dan kemanusiaannya. Program televisi, khususnya swasta, yang memang sepenuhnya hidup dari iklan, mau tak mau menjadi ‘pedagang’ yang menjajakan imej-imej perempuan untuk dikonsumsi massa.

Coba tengok acara Silat Lidah di Anteve, yang tayang jam 10 malam setiap hari kerja. Program kategori bincang-bincang ini menampilkan enam orang panelis perempuan dan satu moderator sekaligus host laki-laki. Dalam setiap acara, Silat Lidah menyuguhkan beberapa tema untuk dibahas oleh keenam panelis dan sang moderator. Lazimnya, acara yang dengan atmosfer seperti ini akan menyuguhkan diskusi serius dengan wawasan luas dan argumen yang bermutu. Namun yang terjadi adalah perang mulut, debat kusir, dan berakhir dengan kesimpulan yang ngawur. Silat Lidah ternyata dirancang sebagai program lawakan; makna yang diberikan sangat jauh dari ‘silat lidah,’ yang berarti debat dengan logika sebagai dasar argumentasi, sementara tayangan tersebut mandeg dengan kreativitas dan pikiran kritis.

Minus intelektualitas
Program ini biasa diisi oleh perempuan-perempuan cantik yang cukup dikenal dalam dunia hiburan seperti Julia Perez, Ria Irawan, Melisa Karim, atau Kiki Amalia, dan rata-rata memang mendominasi dunia selebritis. Namun, sungguh menggelikan (dan miris) melihat Ratna Sarumpaet, Sandrina Malakiano, atau Lula Kamal, yang biasanya dekat dengan dunia akademis dan intelektualitas, juga diposisikan sebagai perempuan-perempuan suka ngerumpi dan, seperti yang diakui presenternya, jelas berotak kosong.

Sang pembawa acara, Irwan Ardian, seolah-olah berdiri sebagai simbol patriarki yang membawahi dan ‘menguasai’ keenam panelis. Akan tetapi, ia tidak pernah bisa menjadi penjembatan argumen yang baik dan bahkan cenderung seksis dan tendensius. Ia seringkali menyebut para panelis perempuan sebagai dayang-dayang. Belum lagi substansi programnya dapat dicerna, Silat Lidah telah menimbulkan kontradiksi. ‘Panelis’ tentu saja berhubungan erat dengan intelektualitas, akademik, dan orang-orang yang punya pemikiran berdasarkan logika. Sedangkan ‘dayang’ lebih merujuk kepada pembantu, kebodohan, kepasifan, dan perempuan-perempuan yang bergayut di tangan sang raja.

Kontradiksi ini mengarah jelas kepada objektifikasi tubuh perempuan dan subordinasi peran. Jupe, misalnya, yang dalam acara ini dijuluki Si Dada Besar (namun senang dan cuek saja), mutlak menggambarkan hal tersebut. Dalam salah satu komentar SMS yang ditampilkan, seorang pemirsa laki-laki berpesan, “Jupe, mana bibir seksinya?” (31/1). Tidak ada satupun komentar yang memuji daya analisis para panelis dalam menguraikan masalah yang ditampilkan.

Produser acara bisa saja mengklaim bahwa acara ini bertujuan untuk hiburan semata. Ia menjaga rating agar tetap tinggi, memenuhi selera pasar, sehingga iklan masuk silih berganti. Tidak salah ketika Tania Modleski (1986) dalam Studies in Entertainment mengatakan bahwa karena industri budaya populer, seperti program televisi, yang diproduseri oleh kaum laki-laki dan ditujukan ‘seolah-olah’ untuk laki-laki, maka perempuan direduksi menjadi objek demi pemuasan proses tersebut. Silat Lidah sepertinya hanya dirancang bagi penonton laki-laki. Ia memberikan kepuasan berperspektif patriarkal bahwa perempuan memang lebih bodoh daripada laki-laki. Perempuan dalam lingkaran patriarki disajikan secara akurat oleh keenam panelis dalam Silat Lidah: banyak omong namun tidak ‘berisi.'

Program Silat Lidah sepertinya memang dirancang untuk membuat para panelisnya berbicara tanpa berpikir, sehingga menciptakan spontanitas yang dengan gamblang memperlihatkan stereotip bahwa jika para perempuan bicara, mereka tidak pernah berpikir! Perkataan mereka tidak perlu cerdas, sehingga melulu menghasilkan jalan keluar yang tidak relevan untuk persoalan yang diketengahkan. Secara tersirat, perempuan dalam dunia yang didominasi laki-laki idealnya adalah mereka yang tidak usah memberikan pendapat dan saran; duduk diam saja dan nrimo segala perkataan laki-laki. Para panelis hanya perlu mematuhi rambu-rambu yang telah dijelaskan oleh sang pembawa acara.

Eksploitasi atau eksplorasi?
Perempuan dalam televisi sekiranya telah menjadi korban dalam kapitalisme global yang sangat kuat ideologi patriarkinya. Apakah perempuan termasuk ke dalam komoditi yang lantas dieksploitasi atau dieksplorasi? Namun persoalannya, seperti yang terlihat dalam kenyataan, dalam acara Silat Lidah, banyak perempuan yang justru sepertinya ‘memanfaatkan’ kesempatan itu untuk memenuhi berbagai tujuan, termasuk untuk survive dalam industri hiburan. Dengan sendirinya, televisi menjadi media pertarungan antara idealisme dan kebutuhan.

Saling ‘memanfaatkan’ antara kapitalisme dan patriarki dengan perempuan seolah tampak sebagai teori yang lebih sesuai untuk membahas gejala ini. Ratna Sarumpaet, Sandrina Malakiano, Fira Basuki atau Lula Kamal barangkali memanfaatkan guyuran popularitas dan materi, walaupun harus mengorbankan imej intelek dan akademis. Namun, satu hal yang mungkin mereka lupakan adalah bahwa produk budaya populer seperti televisi telah lama bertransformasi menjadi media yang mengkreasi kesadaran manusia melalui imej yang dibangunnya.

Televisi, mengutip Jean Baudrillard (1988) dalam Simulacra and Simulation telah mengubah fungsi media sebagai penyalur menjadi “diri media itu sendiri,” menjadi “saluran” itu sendiri. Pesan-pesan yang ditampilkan merupakan efek langsung dari ‘dirinya,’ sehingga menciptakan dunia pemirsa menjadi warga dari global village di manapun tempat dan kapanpun waktunya. Acara Silat Lidah mematri ingatan penonton, baik laki-laki dan perempuan, terhadap para panelis sebagai perempuan-perempuan yang hanya pandai ber-silat lidah, yang tidak intelek, dan yang jauh dari dunia akademik. Hal ini lantas berkembang menjadi realitas semu (hyper-reality) yang kemudian mendeterminasi kesadaran penonton. Panelis-panelis dalam Silat Lidah akhirnya menipiskan pemahaman masyarakat tentang kesadaran jender dan malah semakin mengukuhkan stereotip negatif pada perempuan.

Ternyata, toh, yang lebih diuntungkan tetap saja kapitalisme dan patriarki. Saya terpaksa setuju dengan para analis jender yang mengatakan bahwa layar kaca adalah media strategis dalam subordinasi kaum perempuan. Implikasi yang ditimbulkan adalah, pertama, perempuan dan tubuhnya senantiasa diharapkan berpenampilan cantik karena ia merupakan fokus tatapan mata yang semata-mata memanjakan estetika visual dari sudut pandang laki-laki. Tidak mengherankan jika yang dipanggil untuk jadi panelis dalam Silat Lidah adalah mereka-mereka yang terbiasa berpenampilan seksi seperti Julia Perez, Aline Tumbuan, Kiki Amalia, Melisa Karim, Dominique atau Lola Amaria. Para penonton seolah-seolah tidak punya telinga karena sibuk mengamati paha dan belahan dada.

Kedua, bias jender akan selalu merasa nyaman dalam pelukan budaya populer dengan televisi sebagai senjata utamanya. Preseden-presenden buruk dan pelecehan terhadap perempuan akan selalu mendapatkan tempatnya dalam dunia hiburan, yang sayangnya ‘dikukuhkan’ sendiri oleh tokoh-tokoh perempuan yang dikenal intelek. Apapun keuntungan yang mungkin mereka peroleh, perempuan tetap saja berada dalam plot yang telah dirancang oleh sistem besar yang dominan, dalam hal ini kapitalisme. Para panelis Silat Lidah mungkin tidak mau disebut sebagai korban dalam industri ini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa acara seperti ini mengandung tendensi yang mengeksploitasi perempuan.

Sudah sedemikian parahkan perempuan dalam televisi? Secara umum kesadaran jender di kalangan pemrakarsa program televisi memang kurang, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Akan tetapi, sebenarnya yang menjadi tujuan utama adalah publik itu sendiri. Tayangan layar kaca hanya akan mengikuti pandangan mainstream di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, pandangan dan sikap warga sebagai pemirsa yang ‘sensitif-jender’ sangat diperlukan sehingga bias-bias yang senantiasa bersarang di dalam ‘kotak ajaib’ bernama televisi itu bisa direduksi atau bahkan dihilangkan sama sekali.



*Artikel ini telah dimuat di Harian Padang Ekspres, Minggu 9 Maret 2008.

23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
emokidonlastevening wrote on Feb 23
nah betul televisi sekarang keknya dikit2 uda ngikis pikiran kita... penuh kekerasan yang dibungkus kemanisan
bangsa kita yg masih lum pinter mencerna uda dijejali tontonan yg amoral
*ancrit bahasa gw kek org penting
ivanatm wrote on Feb 23
hehe, bukan hanya kekerasan, tapi kecabulan
juga kadang dipertontonkan dengan bangga.
Intinya selalu rating, rating, dan rating.
emokidonlastevening wrote on Feb 23
ivanatm said
hehe, bukan hanya kekerasan, tapi kecabulan
juga kadang dipertontonkan dengan bangga.
Intinya selalu rating, rating, dan rating.
betul mengikuti pasar...kayak ga punya idealisme....
padahal yg sesungguhnya menjadi suatu pegangan adalah menjadi diri sendiri...
disini yg masih keukeuh adalah metro sama TVRI meskipun ada sedikit2 perubahan.
takut keilangan sponsor juga keknyah.....
semakin tinggi rating kan smakin tinggi jg pendapatan dr iklannyah
ivanatm wrote on Feb 23
Iya, dan TVRI akhirnya ditinggalkan pemirsa karena tidak
memenuhi keinginan pasar. TV swasta memang tidak
punya idealisme lagi, karena hidupnya tergantung
sepenuhnya pada iklan. Jadinya, ya, mereka tidak peduli
lagi mencerdaskan bangsa atau tidak, yang penting kapital
jalan dan berputar. Kekerasan, pelecehan terhadap perempuan,
tayangan-tayangan gak bener, namun 'punya daya' jual menjadi
menu utama mereka. Halah, kok gw sok prihatin gini ye heuheue..
emokidonlastevening wrote on Feb 23
ivanatm said
Iya, dan TVRI akhirnya ditinggalkan pemirsa karena tidak
memenuhi keinginan pasar. TV swasta memang tidak
punya idealisme lagi, karena hidupnya tergantung
sepenuhnya pada iklan. Jadinya, ya, mereka tidak peduli
lagi mencerdaskan bangsa atau tidak, yang penting kapital
jalan dan berputar. Kekerasan, pelecehan terhadap perempuan,
tayangan-tayangan gak bener, namun 'punya daya' jual menjadi
menu utama mereka. Halah, kok gw sok prihatin gini ye heuheue..
wakakakakakk iya kita ene protes di tempat yang salah..yah sapa tau ntar petugas KPI liat blog ene kekekekekkekekekek...
sebenernya ga salah juga TV swasta toh mereka ada juga jadi lahan kerja org banyak...cm masyarakat indonesia blum siap buat disuguhi tontonan yg sedemikian rupa jadi suka menelan mentah2..cuiiihh...bayangin makan daging mentah... ga enak bikin penyakit pula
permatahati wrote on Feb 23
pernah nonton sekali pas pulang kemarin...

bingung, ini acara apa? perempuan pada saling berteriak....nggak tau apa yg diargumentasikan.

herannya kok perempuan masih belum sadar kalo cuma dianggap objek?
ivanatm wrote on Feb 23
Mungkin honornya gede banget, jadi mereka mau aja.
Rata-rata tu 'panelis' adalah aktivis-aktivis perempuan
loh, penulis, dokter. Ironis! Kecuali Jupe kali ya, yang
alumni model FHM :-D
ivanatm wrote on Feb 25, edited on Feb 25
sebenernya ga salah juga TV swasta toh mereka ada juga jadi lahan kerja org banyak...cm masyarakat indonesia blum siap buat disuguhi tontonan yg sedemikian rupa
Lagi-lagi pendidikan ya. Kalo orang-orang udah 'terdidik'
dengan baik, ya itu tadi, mainstream di masyarakat akan
berubah dengan sendirinya. Tayangan-tayangan 'gak jelas'
bakal hilang dengan sendirinya juga.
wiseinsimplicity wrote on Mar 2
Oh! kok mereka lebih mirip hedonis yang kebarat-baratan daripada feminis ya? Geram aku. GERAM SEKALI!!!!! Setuju sama Ivan kalau acara Silat Lidah malah berpartisipasi dalam ketimpangan gender.

Van, I really dig ur writing. Hav u tried Kompas?


Ps. Kasih gambar dong yang di Bahas : ). Biar mantapx.
barbadoshe wrote on Mar 2
hiduuuppp jupeeeee, "mana bibir seksehnyaaa??"
ivanatm wrote on Mar 2
Geram aku. GERAM SEKALI!!!!! Setuju sama Ivan kalau acara Silat Lidah malah berpartisipasi dalam ketimpangan gender.
Sesuai pesan Irwan Ardian, "Jangan pernah sakit hati!" heuheue..
Ada paradoks dalam eksistensi mereka sebagai aktivis perempuan
ketika harus mengikuti skenario SL yang mewajibkan mereka
bicara tanpa 'berpikir.'

Easy, inilah tokoh-tokoh tanpa independensi. Mereka udah sama kayak tv swasta itu sendiri, tidak lagi punya idealisme. Tidak perlu memikirkan tanggapan masyarakat (yang kritis), yang penting kapital berputar terus di kantong.
ivanatm wrote on Mar 2
hihihi, kalo Jupe udah megang kendali mah, orang
gak bisa lagi konsentrasi.
barbadoshe wrote on Mar 2
nonton ga maren di "akhirnya dateng juga", si jupe mang bener2 ngegemesin =))=))
happytyazh wrote on Mar 7
heuehue iya, banyak omong dan tak berisi sekali acara ini. Dan saya ga pernah suka sama jupe.. itu alesan saya ga pengen nonton acara ini lagi.. udah kosong, ditambah kosong lagi.. blah!
ivanatm wrote on Mar 7
Kemaren Jupe terbengong-bengong dan lebih
banyak diam ketika Ratna Sarumpaet sama Lula
Kamal berdebat panas. Eh, ketika sedang asyik2nya
berargumentasi dengan seru, tiba-tiba Irwan Ardian
ngasih kartu kuning, "PRITT!!" dan nyuruh diam.
"Karena Anda semakin bawel saja, saya kasih Anda
kartu kuning, jadi sekarang diam!" Si Jupe dapet
angin segar, dan mulai lagi berceloteh tak karu-karuan.

Sebenernya topik yang diangkat sangat berguna
kalau seandainya dibahas agak sedikit serius.

happytyazh wrote on Mar 7
iyaa.. topiknya emang bagus, catchy, dan sedikit menarik perhatian.. tapi yaa itu tadi.. kalo cuman ngandelin lidah tanpa otak yg bisa ngebangun knowledge penontonnya jg sih, hyahhh..males. Apalagi jupe.. heuheu gaji butaa..
rumputeki wrote on Mar 12
kan kita sudah capek sama yg "pake otakj", jd giliran senang2 hahhihi gak bermakna boleh dong ah. huehehehehe
ivanatm wrote on Mar 12
hyahahah.. ni dia, target besar acara ini. Kalo selama ini tayangan televisi kita udah make 'otak', rasanya gak akan ada film-film kuntilanak atau suster ngesot. Kalo selama ini udah 'cerdas', rasanya gak akan ada sinetron sampe 10.000 episode. Atau kalau selama ini udah 'sensitif-jender', gak akan ada program seperti Deal or No Deal, Silat Lidah. Jadi selama ini, menurut saya, kita praktis belum memakai otak. Tayangan layar kaca kita hanya diisi oleh haha-hihi tak jelas, dan cerita-cerita yang tak mengikuti akal sehat.

Oiya, sekarang ada lagi namanya 'Bincang Bincang Perempuan' di Global. Ini lebih parah! Ampun DJ...
cangcorong wrote on Mar 12
ivanatm said
Kalo selama ini udah 'cerdas', rasanya gak akan ada sinetron sampe 10.000 episode.
sorry agak OOT bro..cuma pengen nambahin aja


10,000 episode...YANG NGEJIPLAK DORAMA, DRAMA KOREA,ANIME/MANGA dan modus operandi terbaru..TELENOVELA....

ivanatm wrote on Mar 13
Telenovela bukannya sudah tamat riwayatnya beberapa tahun lalu?
Terakhir nonton telenovela, "Paquita" heuehuehuehue.. (sorry OOT..)
cangcorong wrote on Mar 13
ivanatm said
Telenovela bukannya sudah tamat riwayatnya beberapa tahun lalu?
u right bro...i mean...

now theSHIT- NETRON script writet copy the telenovelas's scrypt...

u can see in DIVA n JELITA ( both of them belongs to RCTI ..)

SORRY..OOT ( again !!!)
balapusuh wrote on Apr 23
mantap euyyyy!!!!!!!!!!!
ivanatm wrote on Apr 23
Apane yang mantap mas? Pose Lula Kamal? huhuhuh
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.