ReviewReviewReviewReviewAn IliadMar 26, '08 7:21 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Alessandro Baricco
Alessandro Baricco tiba-tiba dapat ide yang menurutnya brilian. Dia punya cara baru membaca epik ‘The Iliad’ karya Homer. ‘The Iliad’ memang terlalu sulit dibaca oleh orang awam karena ditulis dengan bahasa 'njelimet.' Struktur dan durasinya mungkin merupakan alasan utama orang tidak suka membaca klasik lagi. Baricco lalu punya solusi bagi pembaca modern. Ia memotong bagian-bagian tertentu dalam ‘The Iliad,’ deskripsi panjang nan melelahkan, menjadi cerita yang relatif gampang dikonsumsi.

Tidak sampai di sana: ia pun melakukan sesuatu yang tergolong berani untuk editan karya penulis besar sekaliber Homer. Baricco menceritakan kisah perang Troya dari perspektif banyak karakter, baik utama maupun minor. Perang tersebut berakhir setelah sepuluh tahun ketika Odysseus menemukan cara untuk menyusup ke dalam gerbang Troya dengan memanfaatkan kepercayaan bangsa tersebut terhadap Apollo.

'An Iliad' karya Baricco memang hanya fiksi. Dan setiap pengarang bisa melakukan apa saja terhadapnya. Namun, 'mengacak-ngacak' karya Homer tidak saja bisa disebut berani, tetapi butuh kelihaian, terutama dalam penulisan karakterisasi. Di buku ini tentu saja kita akan menemukan banyak sekali karakter, karena mereka semua bercerita (dibandingkan dengan ‘The Iliad,’ yang mungkin hanya terfokus pada beberapa karakter utama).

Kita akan menyaksikan kegelisahaan Andromache ketika Hector hendak bertarung mempertahankan harga diri Troya; kesedihan Hecuba, ibu Hector, ketika ia menginginkan keluarganya kembali utuh seperti sediakala; ketakutan Paris ketika hendak memutuskan untuk bertarung atau tetap bercinta dengan Helen; perasaan Patroclus ketika dilarang ikut berperang oleh Achilles, rasa 'nasionalisme' Diomedes untuk menghancurkan Troy, dan sudut pandang karakter-karakter kecil lainnya yang mungkin tidak seeksplisit dalam karya 'asli'.

‘An Iliad’ mungkin bisa menjadi cara baru membaca klasik. Ada kesenangan tersendiri ketika mengetahui bagaimana jalan cerita dari berbagai sudut pandang. Dan pengaruh hebat yang mungkin akan diciptakan Baricco adalah bahwa para pembaca digiring untuk mencintai klasik, mulai mencari-cari karya-karya masterpiece tersebut di toko buku, dari pengarang macam Sophocles, Dante, atau Shakespeare. Alih-alih menganggap bahwa 'The Iliad' sudah kuno dan ketinggalan zaman, pembaca (dalam hal ini saya) akan dibuat penasaran untuk membaca karya terbesar dalam literatur tersebut.


ReviewReviewReviewReviewReviewHow to Talk to Anyone, Anytime, AnywhereMar 15, '08 11:07 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Larry King
Dimulai dengan pernyataan besar: orang yang sukses adalah pembicara yang sukses. Larry King membeberkan segala pengalaman, tips dan trik, dan seni berbicara yang membuatnya menjadi terkenal seperti sekarang. “Berbicara itu seperti bermain golf, mengendarai mobil, atau mengelola toko—semakin sering melakukannya, semakin mahir Anda jadinya, dan semakin senang Anda melakukannya,” kata pembawa acara Larry King Live CNN ini.

Setiap orang bisa bicara, tapi tidak semuanya bisa berbicara dengan baik. Larry mengatakan bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, mesti menjadi pendengar yang baik. Semua orang ingin berbicara mengenai dirinya, dan alangkah indahnya jika semua orang ingin pula mendengarkan orang lain bicara. Ini sebenarnya prinsip mutualisme dasar yang diterapkan Larry: jika ingin dihormati, hormati orang lain. Dalam buku ini ia memberi banyak resep yang akan membantu kita menguasai seni berbicara, baik itu dengan teman sejawat, kelompok tugas, lawan jenis, atasan, orang tua, bahkan selebritis, dalam berbagai situasi.

Larry King telah berkecimpung dalam dunia bicara selama tiga dasawarsa. Mengawali karir sebagai penyiar, ia sekarang menjadi pembawa acara The Larry King Show di Mutual Broadcasting Network. Orang yang selalu bangga dengan daerah kelahirannya, Brooklyn, ini juga telah menerima banyak penghargaan. Sampai sekarang ia merupakan kolumnis tetap untuk USA Today dan The Diamond.

“How to Talk to Anyone, Anytime, and Anywhere” juga membahas kecenderungan masyarakat kita yang senang menggunakan ‘catchphrase’, ungkapan-ungkapan kosong, yang sebenarnya, menurut Larry, merusak percakapan, serta beberapa istilah-istilah trendi yang sering digunakan. Buku yang diterjemahkan menjadi “Seni Berbicara kepada Siapa Saja, Kapan Saja, dan di Mana Saja” ini sangat berguna bagi mereka, terutama yang sering tampil di depan publik, karena ia juga memberikan rahasia untuk sukses memukau audiens. Namun, pada dasarnya, buku ini bagus untuk setiap orang, karena semua orang bicara.


ReviewReviewReviewOut of PlaceMar 12, '08 4:41 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Edward W. Said
Edward Said memaparkan catatan pribadinya dalam pengalaman atas sebuah dunia yang hilang: Sebuah dunia bernama kanak-kanak, yang 'terlupakan.' Merasa selalu terbuang, terasingkan, dan tidak 'pas' di mana saja ia berada, Edward Said berjuang keras untuk menyingkap sosok pribadinya yang lain, bukan 'Edward' ciptaan ayahnya, dengan segala aturan hidup yang dipaksakan kepadanya. Bukan pula 'Said' ciptaan Amerika ketika ia tengah menjalani masa-masa kuliah di sana. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, pribadi yang cerdas dan berbakat, bukan makhluk bentukan yang malu-malu dan penakut.

Edward Said adalah profesor Bahasa Inggris dan Sastra Perbandingan di Columbia University. Ia banyak berkontribusi dalam wacana pasca-kolonialisme dalam karya-karyanya, seperti Orientalism, Culture and Imperialism, atau Covering Islam.

Out of Place (terjemahan: Terasing) merupakan rekaman sebuah dunia yang esensinya terhapus dan terlupakan. Memoir ini berisi catatan-catatan mengenai kondisi perpolitikan, estetika, opera, fiksi, dan tulisan-tulisan Said yang banyak terinspirasi dari Beethoven dan Adorno. Buku ini juga merupakan rekap keluarganya besarnya, cerita-cerita masa remaja, dengan latar belakang Perang Dunia Kedua; ditulis dengan jujur, sehingga kadang terdengar memalukan. Said mengatakan bahwa alasan utama ia menulis memoir ini adalah demi kebutuhan "menjembatani perbedaan ruang dan waktu dalam kehidupan sekarang dan kehidupan kelak."


ReviewReviewReviewReviewBoulevard de ClichyMar 12, '08 4:41 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Remy Sylado
Boulevard de Clichy adalah nama sebuah jalan di sudut kota Paris. Banyak pelukis ternama mengabadikan tempat ini dan kehidupan yang berlangsung di sana dalam lukisan, seperti Van Gogh, Bonnard, Cezanne, Picasso, Renoir, atau Severini.

Nah, Remy Sylado mengabadikannya dalam fiksi berjudul sama, Boulevard de Clichy. Di sini, hiduplah seorang perempuan Indonesia bernama Anugrahati yang mencari jati diri dan melangsungkan hidup untuk 'survive' di kota Paris. Ia bekerja sebagai penari telanjang dengan julukan Meteore de Java. "Dia terbuang, namun tak menyerah, terlaknati namun terberkati." Cinta dan tanggung jawab membuatnya tegar.

Remy, yang dijuluki penulis 'mbeling', gila, seperti biasanya menulis dengan gaya 'urakan', dengan kosakata yang tanpa malumalu, bahkan cenderung vulgar. Novel ini bercerita mengenai konflik-konflik hidup manusia, terutama setelah tumbangnya Orde Baru, ketika setiap orang jadi 'kebablasan.' Adonannya adalah seputar cinta remaja, politik, gap miskin dan kaya, politik buta, bahkan sampai ajian guna-guna menjadikan novel ini tidak hanya lucu, namun bisa membuat haru.


ReviewReviewReviewReviewThe HoaxMar 10, '08 9:17 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Clifford Irving, seorang penulis amatir, ingin untuk mengubah nasibnya dengan menipu sebuah penerbit terkenal. Ia memerlukan sebuah kesuksesan instan terdorong keadaan finansial dan reputasinya yang terus jatuh sebagai penulis. Irving lantas berniat untuk memalsukan karya. Ia menulis dan memublikasikan otobiografi Howard Hughes, legenda hidup dunia penerbangan Amerika Serikat yang sedang dalam pengasingan, tanpa satu kali pun pernah mewawancarainya. Penelitian besar ia lakukan demi kesempurnaan buku yang konon akan dianggap best-seller tersebut, termasuk mencuri data di Pentagon!

Ia berhasil, dan penerbit mencetak bukunya. Saking detail otobiografinya, dan konten buku yang meyakinkan, ia menerima honor sebesar satu juta Dollar dari penipuan besar tersebut. Apakah ia akan ketahuan? Bagaimana reaksi Howard Hughes asli terhadap buku tersebut?

Film tentang kehidupan penulis yang diperankan oleh Richard Gere (one of my favorite actors) ini berangkat dari kisah nyata. Richard yang tampil dingin, tenang, dan penuh percaya diri sangat tepat menggambarkan si penipu Clifford, yang lantas sukses ‘mengerjai’ penerbit Inggris sekaliber McGraw-Hill. Tak seorangpun, kecuali co-author-nya dan penonton yang tahu kalau ia sedang melakukan kebohongan terbesar abad ke-20.


ReviewReviewReviewParis Je T'aimeFeb 27, '08 12:55 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Satu lagi dari Perancis. Paris Je T'aime (Paris, Aku Mencintaimu) bercerita tentang kehidupan-kehidupan cinta masyarakat kota Paris. Semuanya terpisah dalam ruang dan waktu, namun memberikan kesamaan, yaitu cinta datang tak terduga. Film ini menggugah, menemukan, membongkar, menyadap, menyelidiki, dan mengaduk-ngaduk kota Paris dan menggarapnya menjadi cerita-cerita yang unik tentang cinta. Film ini seolah mengukuhkan citra Paris sebagai kota cinta. Kejutan di akhir cerita adalah ketika tokoh-tokoh yang diceritakan terpisah, ternyata bertemu dan bahkan telah saling mengenal.

Paris Je T'aime tidak memperlihatkan sisi-sisi kota Paris yang mungkin akan kita lihat pada gambar-gambar kartu pos, atau buku panduan travelling. Ia menyajikan pelosok-pelosok Paris yang jarang diekspos dan diceritakan. Setiap kisah berdurasi 7-8 menit dan diakhiri dengan narasi seorang perempuan Amerika yang sedang berlibur di Paris, yang seolah menyimpulkan seluruh cerita, tentang masakan, cuaca, budaya, masyarakat, laki-laki, perempuan, dan tentu saja tentang cinta.

Film yang buruk bagi orang yang menyukai tontonan penuh aksi dan kekerasan, karena tidak akan menemukannya dalam film ini. Bagi pencinta drama, sebaliknya, Paris Je T'aime sayang kalau dilewatkan.


ReviewReviewReviewReviewRatatouilleFeb 27, '08 12:12 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Animation
Seorang tikus (bukan seekor, karena dia bisa bicara hehe) bernama Remy bermimpi untuk menjadi seorang koki terkenal di Perancis. Meski keberadaannya, yaitu wujud tikus, ditambah kecendrungan masyarakat tikus pada umumnya (jorok, bau, dan hidup dari sampah), Remy tetap percaya suatu saat ia akan mewujudkan karir sebagai juru masak andal.

Nasib membawanya untuk hidup di sebuah restoran yang baru saja ditinggalkan pelanggan karena kematian chef terkenalnya, Monsieur Gusteau. Dengan naluri dan bakatnya yang melimpah dalam memasak, Remy mengubah hidup seorang pemuda untuk ‘membangkitkan’ lagi restoran tersebut. Petualangan Remy dalam mengarungi dunia manusia, pergolakan “batin tikus-nya,” idealisme memasaknya, dan kasih sayangnya terhadap sesama (manusia dan tikus) memutar balikkan fakta dunia masak kota Paris dalam aksi-aksi menegangkan, lucu, dan emosional.

Tidak terlalu mengherankan kalau Ratatouille kemudian terpilih sebagai Film Animasi terbaik dalam Academy Award tahun ini. Selama tahun 2007, praktis tidak ada yang bisa menyaingi Ratatouille, baik itu dalam konsep cerita maupun gambar. Dan seperti biasanya, animasi garapan Disney dan Pixar pantang untuk tidak menyelipkan pesan moral. Remy dalam Ratatouille memberi inspirasi bahwa bakat hanya akan berguna bila diingiri dengan tekad. Watch!


ReviewReviewReviewReviewMusic & LyricsNov 25, '07 8:30 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Starring : Hugh Grant & Drew Barrymore
Released : August 2007

When I go to see a “Valentine’s Day movie,” I expect to see something cute. I plan on leaving with a renewed (if slightly syrupy) belief in love and romance. I will have at least a half-a-day crush on the leading actress. I suddenly love Sandra Bullock after she plays in the time-machine love with Keanu Reeves in Lake House, for example. And I should definitely wonder about whether she and the leading actor might be together in real life.

But then again, not all “Valentine’s movies” come together as well as that perfect piece of chocolate cake. I’d have to say that Music and Lyrics did not quite do the trick. Fairly early on in this story of a washed-up ’80s singer who falls for his amateur lyricist in his quest for a comeback, romantic connection is equated to song.

It is an interesting and intriguing simile. A melody as the initial attraction—the notes that turn our heads, get us grooving along with the beat, and tunes us in to actually listen. The lyrics are what you find out as get to know a person better—the thoughts, beliefs, and messages that will either lead you to identify with the song even more or to decide that as catchy as its beat is, the song is just not really your thing. And as Drew Barrymore’s Sophie Fisher says, “It’s the combination of the two that makes it magic.”

That is where I have to say Music and Lyrics falls short—the combination of all of its elements coming together to create something magical. Still, Barrymore is as cute as always. Hugh Grant does an excellent job of evoking the comedy of washed up ’80s singer Alex Fletcher. The interior demons that both characters reveal during the movie create great bridges of identification.

Sophie’s demeaning depiction in a bestselling book may not be one with which many of us are familiar. But to be told we are lacking, to be used and then tossed aside by someone we both love and respect, and/or to be told that we are nothing more than a failure is something that I suspect haunts and holds back many of us. At the same time that dark pasts make it difficult to believe in bright futures, many of us can also identify with the haunting of a never-to-be-achieved-again success in our past. That shining moment may not have been a few years at the top of the pop charts, but whatever it was, the imprisoning voice telling us that’s all we’ll ever be and that it’s downhill from there is one that I would guess has spoken to many more than just Alex Fletcher.

I also love the idea of love and connection as the perfect song. I could see it as the center of a historical movie about a great composer, his future wife, and the song that is still a masterpiece today: two pieces of one whole who come together to create something greater than they ever could have alone. One may see that, slightly, in the story that unfolds between Alex and Sophie. Through their collaboration, they create something that denies both of their demons and brings out both of their talents. Their song shouts out that Sophie is a talented writer in her own right. The standing ovation the completed project receives tells Alex he is far from done.

But still, the magic—shall we say, the chemistry—is just not there. The song is sort of cute, but nothing that I would listen to again. And the “romantic” connection that ends the movie, I just did not buy it. Sure they share each other’s bed. They do end the movie making out in front of an auditorium of madly screaming fans. But as Sophie says at one point, it was just business, and that is what it feels like. Their scenes of romantic connection—celebrations of success and accomplishment. Their common achievement and triumph over their demons—two separate journeys that end up coming together well. Even their foretold future together—great business success; no mention of love or marriage or bunches of kids all following Mommy’s and Daddy’s musical footsteps.

There are great parts of Music and Lyrics—lines that make me laugh, situations that make me smile. Its messages about moving beyond crippling pasts and connecting with people who bring out the value and talents inside of us are truthful and inspirational. The movie has a handful of great lyrics. Moments of its melody are fun and inspiring. But put it all together and the entire score almost clashes and fails to hold up the pieces that give it potential. Because not all moments in life are meant to be magical. Great value can come in fairly impersonal connections of forward motion and achievement. But when it comes to the people with whom we share more than common business aspirations, I want a connection that is tied by more than a shared destination. I want music that inspires lyrics and lyrics that inspire music. And if that connection is going to be love, I want music and lyrics that are so intertwined, inspirational, and complementary that they are nothing short of magic.

And I need you despite the fact
That you’ve killed all my plants.

In a world where we each have our music and lyrics carrying us through each day, may we seek to form both romantic and non-romantic connections that aren’t just words and chords slapped together, but instead songs that move and grow and fill this world with pieces of truly beautiful, rocking, timeless, and life changing music.


ReviewReviewReviewReviewNorbitSep 24, '07 10:20 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
For a while, forget the images of Eddie Murphy you used to have in your minds: the talkative police officer, the brilliant detective negotiator, or the nutty professor. 'Norbit' gives me a symphatetic side of Murphy. When a mere genre of comedy offers you a laughingstock for two hours or so, this film makes you laugh, indeed, and moves you at the same time: laughing in pain.

I thought it was a dazzling joke when I saw the Norbit’s DVD cover with Eddie Murphy as the main picture and a big fat terrible-looking woman with a bikini on his belly. In fact, both are played by the same actor, plus another minor character. Murphy plays three characters, with all different style and sex, at the same shot. He is just amazing an actor.

Little Norbit (Eddie Murphy) *spoilers alert* was an orphan, adopted by Mr Wong (Eddie Murphy), the racist old Chinese man, who owned an orphanage house where unwanted children are thrown off its the front yard by their reckless parents. Norbit grew in the middle of other orphans with affection and care from Mr Wong. He was raised along with Kate (Thandie Newton) and they were very close to one another. Norbit and Kate even vowed that they would be together forever and pretended a marriage ceremony under an old oak tree. Thus, Norbit found it very hard when Kate was adopted by a family and gone.

Young Norbit was physically weak and often got a ‘bullying’ treatment from his friends. When things get worse, there came Rasputia (Eddie Murphy), with her airbus-like body building and a terrifying face, helping Norbit from the wreck and havoc of his playing fellows. Time went by and Norbit was always in Rasputia's control, yesterday, today, and tomorrow, till they got married.

No love in their marriage, though. Fear and grievance were everywhere and mirrored Norbit’s face. He was all too afraid of Rasputia and her three brothers, who always threatened him with their muscular bodies and blasphemy. But he led his life peacefully by playing with the children in Mr Wong’s orphanage house and helped the institution. He also worked for Lattimore Construction, a firm owned by Rasputia’s brothers. The firm actually wanted to buy Mr Wong’s orphanage and then change it into bar-casino and striptease club.

When threats, rough words, and physical abuses had become Norbit’s daily consumptions, his childhood sweetheart, Kate, came again to make the plot reach its suspense. Norbit's life seemed to have just begun to see his Kate, now a beautiful lady, filled his days. He would prefer enjoying his time outside home to dealing with his half-woman and half-monster wife, who could knocked him out in a single blow. Norbit could do nothing to defend himself, his pride as a husband, for example, when he caught Rasputia was sleeping her gym trainer in his own goddamn bedroom. But, Norbit tried to forget it by spending his time with his lovely Kate.

The smell of affair disgusted Rasputia, who then planned to give them ‘a lesson.’ Norbit found his second disappointment in life when he knew that Kate would soon marry Deion, her boyfriend. But, in the church, where the marriage simulation took place, Norbit unporposely declared his love to Kate. The woman thought to re-schedule her marriage with Deion, because deep in her heart, she loved Norbit in return.

Deion was actually a jerk, who collaborated with Rasputia’s brothers to change Mr Wong’s orphanage house into a striptease and gambling club. That was the only reason he rushed to marry Kate. By making the possession of Kate’s firm, he could freely took action to dispose off the orphanage house. Moreover, the marriage could not be avoided because Norbit had said something that hurt Kate (he said so to save Kate’s life); Rasputia was peeping their conversation at that time. Kate misinterpreted Norbit’s words and took it personally.

However, the marriage was spolied by two of Norbit’s friends, who tried to undo, or at least, to postpone the marriage and gave a chance for Norbit to come and say “Objection!” With all his effort, Norbit rode his bike to the church, fought all odds against Rasputia and her brothers on the way. Can Norbit prevent the marriage and save his love?

The movie offers us something new in watching a comedy. It’s a moving comedy, in which we laugh and shed tears at the same time. Moreover, we are shown a brilliant cast by Eddie Murphy who can play three different characters at the same time: the abused black Norbit, the 12-wheeled truck look alike Rasputia, and the sarcastic old Chinese man with a bad English accent.

Once in a while, see the movie from gender perspective. The director whirls the conservative definition of gender roles and stereotypes, because it’s all too different and cruel. Norbit may surrender to his wife, but it is because of his lack of strength and confidence. Rasputia is all too dominant in the marriage. I can’t see this as woman’s lib anymore, because she only creates disaster. There is no equality at all. Even the radical feminists won’t try to kill their men to let loose from patriarchy. Rasputia smashes her husband, for example, when he comes late from buying her favorite food. Meanwhile, she defends herself and her adultery-partner even when Norbit catches them in his bedroom.

Everybody needs affection
Looking for a deep connection
Everybody needs some shelter
To spend a little time together..

Thus, Kate is a perfect solution, in which Norbit meets his love, a shelter, a friend to share with, and a partner to talk to. They are very equal in all aspects; they have a mutual relationship. In each other’s soul, they find peace. That’s all what everybody’s trying to find. The film insists us not to stop trying and struggling when the best is yet to come.


UPSHOT: For Eddie Murphy’s fans, it’s a must-see movie, cause you’ll explore another side of his acting skill. To non-Murphy-goers, let some of your times watch this unique and exceptional movie, because it stings. For those who love actions, there are series of punches and kicks, even flying weapons. For those who prefer romance, there are series of romantic scenes, particularly involving Norbit and Kate. For those who just like to laugh out loud, wait until the end of the movie, because you’ll do.


ReviewReviewReviewApocalyptoSep 24, '07 10:15 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Sejenak lupakan dulu peradaban suku Maya yang terkenal sangat maju dan canggih pada zamannya. Mel Gibson, dalam 'Apocalypto,' menyajikan orang-orang Maya yang suka perang, masokis dan brutal. Film yang diproduksi Desember 2006 ini membuat 'The Passion of the Christ,' film Gibson sebelumnya, seperti piknik anak-anak sekolah dasar.

Oh ya, pastikan juga kamu tidak sedang memakan apa-apa sewaktu menonton film ini. Cerita dimulai dengan sekumpulan pemuda suku Maya yang sedang menikmati hasil buruan dan memakannya mentah-mentah. Selanjutnya, darah, penggorokan, pemenggalan, dan jantung yang dicabut dari orang hidup disajikan secara close-up. Benar-benar membuat nafsu makan hilang!

Tapi saya tidak sedang membahas hubungan diet dengan film. Setidaknya, pop corn bolehlah untuk menemani kita nonton. 'Apocalypto' diisi dengan pemain-pemain amatir seperti Rudy Youngblood, Raoul Troujillo, dan Dalia Hernandez, dan menggunakan bahasa setempat (Yukatan Meksiko). Tidak ada satu kata pun dalam bahasa Inggris. Konon, film ini dinobatkan untuk meraih The Best Foreign-Language Movie award. Namun, tetap ada subtitle Inggris untuk memudahkan kita mengikuti alur cerita.

Para penduduk desa *awas spoiler* diganggu oleh kedatangan orang-orang kampung lain yang bercerita bahwa daerah mereka telah diserang. Jaguar Paw (Rudy Youngblood), terus didatangi mimpi buruk setelah kejadian itu. Pagi-pagi buta, desanya juga diserang oleh sekumpulan prajurit dari dearah lain. Tanpa persiapan apa-apa, dengan mudah desa Jaguar Paw ditaklukkan. Yang melawan dibunuh, yang hidup dijadikan sandera. Paw sempat menyelamatkan anak dan istrinya yang sedang hamil (Dalia Hernandez) ke dalam sumur kering sebelum ia dan masyarakat lainnya digiring ke piramid raksasa Maya untuk di korbankan kepada Sang Dewa Matahari. Satu-persatu teman-temannya dibunuh; kepala mereka dipenggal, jantung mereka dicabut, dan tubuh mereka dilemparkan ke anak tangga. Giliran Paw pun datang. Namun, beruntung pada saat yang bersamaan terjadi gerhana matahari total sehingga langit gelap untuk sementara. Para pemimpin Maya menganggap Sang Dewa sudah puas dengan pengorbanan yang telah mereka lakukan.

Namun, Paw dengan beberapa orang yang masih tersisa, tidak dibebaskan begitu saja. Mereka dijadikan ajang permainan. Para tawanan disuruh berlari menuju hutan, sementara para prajurit membidik mereka dengan berbagai macam senjata. Semuanya mati karena tidak berhasil menghindar, kecuali Paw. Paw terluka, namun berhasil lolos dan lari menuju desanya, dengan harapan istri dan putranya masih hidup.

Ketegangan dan thriller yang ditawarkan Gibson mungkin mencapai puncaknya dalam adegan ketika Paw berusaha melarikan diri dari kejaran pasukan biadab itu. Paw mengingatkan kita pada film 'First Blood'-nya Sylverster Stallone, si Rambo, yang melenyapkan semua musuhnya dengan serangan gerilya. Atau dalam literatur Inggris, silakan baca cerpen Richard Connel, 'The Most Dangerous Game,' yang menawarkan adegan yang kurang lebih sama. Paw berbagi kisah dengan Rambo dan Rainsford. Mereka awalnya adalah para ‘pemburu’ yang kemudian malah ‘diburu.’ Mereka melakukan trik-trik dan strategi untuk bertahan hidup dan menghabisi lawan-lawannya.

Terus terang saya adalah penggemar Mel Gibson sejak film Braveheart. Namun, Apocalypto begitu menggigit. Apakah Gibson mengorbankan kesucian peradaban Maya dengan cerita menakutkan dan berdarah-darah untuk sebuah penghargaan Hollywood? Data dari National Georaphic tentang suku Maya menunjukkan bahwa Apocalypto minim akurasi. Para prajurit Maya tidak akan dengan sengaja mencari budak dan korban dalam hutan. Para tawanan adalah korban perang secara terbuka. Bahkan mereka lebih sering mengorbankan penduduk dari desa mereka sendiri untuk para Dewa, yang sepertinya selalu haus darah.

Gibson tidak saja menjadikan masyarakat Maya sebagai orang-orang barbar, tetapi juga menciptakan stereotip buruk pada bangsa asli benua Amerika itu. Mereka diciptakan sebagai pembunuh yang haus darah, minim cinta, kanibal, dan tidak beradab; tidak seperti bangsa kulit putih yang "beradab, romantis, dan cinta damai." Adegan terakhir memperlihatkan konvoi conquistador bangsa Spanyol yang kelak akan menghancurkan seluruh kehidupan bangsa Maya, Aztec, dan Inca.

Namun, saya tentu juga bisa melihat begitu luar biasanya film ini. Didukung efek visual yang mantap, setiap adegan terlihat begitu nyata. Piercing, tato, dan pakaian penduduk Maya terlihat sangat dominan dan autentik. Di luar aspek-aspek politik yang mungkin terkandung di dalamnya, Apocalypto, menurut saya, tetap akan diingat sebagai salah satu film yang hebat dan, mungkin, penting.


UPSHOT: Bagi penggemar Mel Gibson, film ini wajib untuk ditonton. Selain menawarkan adegan action yang luar biasa, Apocalypto kaya dengan unsur budaya. Subtitle bahasa Inggris mungkin tidak terlalu membantu karena beberapa ungkapan tidak begitu sinkron dengan tindakan, namun dialog-dialog emosional tidak banyak di film ini. They do more and talk less, karena ada hal-hal yang tidak perlu dikatakan sehingga cukup ditunjukkan dengan perbuatan.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.